snow

Selasa, 04 November 2014

Hilang, mati (Part 4)

Part 4


Entah apa yg ada dalam benak Bara, sore itu ia duduk sendiri di depan TV, ia tak mempedulikan acara TV kala itu, ia hanya terlihat bingung dengan pandangan kosong. Ia memikirkan masa depannya dengan Zahwa, tapi di sisi lain ia tau bahwa orang tua Zahwa tak pernah menerimanya, apa jadinya bila ia harus melepaskannya? "karena tanpamu aku berantakan" itu adalah kata2 Bara yang dikutip dari omongan Raditya Dika. Benar adanya ketika Bara mencoba menjauh dari Zahwa ia tak bisa berbuat apa-apa. Segalanya menjadi berantakan, penampilan tak karuan, hidupnya menjadi tak ada semangat lagi dan banyak hal kecil yang biasanya Zahwa yang memperhatikan tapi dikala tak ada perhatian Zahwa maka semuanya menjadi tidak terurus.
Bara kini menyadari keberadaan Zahwa memang sangat berpengaruh dalam hidupnya.

Bara mencoba memutar otak berusaha mencari cara untuk meluluhkan hati orang tua Zahwa. Bara berusaha menceritakan masalahnya pada ayahnya, mungkin saja bisa menemukan titik terang. Setidaknya ayahnya pernah mengalami masa-masa di usia Bara. Sederet cerita telah Bara ungkapkan, 
"kau serius dengannya kah?" pertanyaan itu terlontar dari ayahnya, 
"serius yah, seusiaku kini mana mungkin masih berfikiran untuk main-main" sahut Bara. 
"Datangi rumahnya, bilang sama orangtuanya. Katakan bahwa kau benar-benar serius" Ayahnya menambahkan. 
"Tapi orangtuanya tak penah setuju dengan hubungan kami yah, dengan berbagai alasan pasti mereka akan menolaknya" timpal Bara. 
"Memangnya kapan kau pernah menemui orangtuanya? Kau dianggap tak sopan karena hanya bertemu dengan anaknya di luar sana. Kau coba sajalah dulu baru kau komentar. Orang tua mana yg setuju jika anak perempuannya pergi tanpa pamit dengan siapa ia pergi. Beda dengan kau, kau laki-laki, ayah setuju-setuju saja kau pergi dengan siapa". Ayah Bara mencoba meyakinkan. 
Bara hanya mengangguk diam dan sedikit ragu. 
"Hei Bara, untuk apa kau masih galau begitu? Apa kau meragukan ayahmu ini?", 
"hmmm, tidak ayah, Bara hanya belum ada nyali untuk itu", 
"haduh, kau ini bagaimana, apa pernah ayah mengajarimu untuk tak bernyali begitu, yasudah terserah kau saja mau bagaimana. Kumpulkan saja dulu nyalimu. hahahahaa" Ayahnya berkata sambil berlalu keluar ruangan. Bara mendapat sedikit ketenangan.

Tujuh dua kosong, tiga angka belakang yg tak pernah Zahwa lupakan, nomor itu memang tak pernah ia simpan tapi ia hafal dari depan, sebaliknya pula dengan Bara. Detik itu nomor itu menelephone Zahwa, hari itu Zahwa agak kurang respect sama Bara. Tiga kali menelephone Zahwa sama sekali belum mengangkatnya, Bara tak putus asa ia masih mencoba menghubunginya. Kali ini "tuuut...tuuuut...Hallo, apa?" Zahwa dengan ogah2an menjawab telponnya. Bara cemas "Kenapa ketus? ada masalah?" kejar Bara,
  "Enggak, lagi bete aja"
 "Bete kenapa?"
 "Gapapa, udah dulu yaa. Daaah"

 "......kamu bete sama a.... tut..tut..tut..." belum selesai bicara tlpn sudah terputus, Bara geram, wajahnya memerah.
"Arrrrrrgggggghhhhhhhhhh, apa2an ini" dia masih memandang HPnya dan "Praaakkkk" seketika HP itu dibantingnya ke lantai, ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Masih tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada Zahwa. Tanpa pikir panjang ia pergi meninggalkan ruang TV dan keluar dengan sepeda motornya.

10 menit kemudian....
"Assalamu'alaikum" Dira menyapa dari luar rumah dan masuk lewat pintu samping yang terbuka dan posisi TV masih menyala dan "Astaghfirulloh.... kenapa berantakan begini?" celetuk Dira sambil memunguti serpihan HP milik kakaknya itu, dikumpulkannya dan diletakkan di meja TV. Ia paham pasti Kakak lelakinya itu tengah punya masalah atau bisa jadi ribut dengan kekasihnya. Ia mencari ke setiap sudut ruang di rumahnya tapi tak ia temukan sosok sperti kakanya itu. "ah, pasti kakak pergi ke sungai" Dira berkata dalam hatinya.
Yah, kakaknya itu memang suka dengan air, setiap kali ia ada masalah pasti ia bicara dengan air di sungai. Mungkin itu bisa membuatnya tenang.



#BERSAMBUNG

Rabu, 17 September 2014

Ascaris Lumbricoides



Ascaris lumbricoides adalah salah satu jenis cacing nematoda intestinalis dengan ukuran terbesar yang menginfeksi manusia. Penyakit yang disebabkan cacing ini disebut askariasis. Parasit ini bersifat kosmopolit, yaitu tersebar di seluruh dunia, terutama di daerah tropis dengan kelembaban cukup tinggi.
 
Morfologi Ascaris Lumbricoides

Cacing Ascaris lumbricoides mempunyai bentuk tubuh silindris dengan ujung anterior lancip. Bagian anteriornya dilengkapi tiga bibir (triplet) yang tumbuh dengan sempurna. Cacing betina panjangnya 20-35 cm, sedangkan cacing jantan panjangnya 15-31 cm. Pada cacing jantan, ujung posteriornya lancip dan melengkung ke arah ventral dan dilengkapi pepil kecil serta dua buah spekulum berukuran 2 mm. Cacing betina posteriornya membulat dan lurus, dan sepertiga bagian anterior tubuhnya terdapat cincin kopulasi, tubuhnya berwarna putih sampai kuning kecoklatan dan diselubungi oleh lapisan kutikula bergaris halus.
Telur cacing ini memiliki empat bentuk, yaitu tipe dibuahi (fertrilized), tidak dibuahi (afertilized), matang, dan dekortikasi. Telur yang dibuahi berukuran 60 x 45 mikron dengan dua lapis dinding tebal. Lapisan luar terdiri dari jaringan albuminoid, sedangkan lapisan dalam jernih. Isi telur berupa massa sel telur. Sel telur yang tidak dibuahi berbentuk lonjong dan lebih panjang daripada tipe yang dibuahi ukurannya 90 x 40 mikron, dengan dinding luar yang lebih tipis. Isi telur berupa massa granula refraktil. Telur matang berisi larva (embrio), tipe ini menjadi infelatif setelah berada di tanah ±3 minggu. Telur yang dekortikasi tidak dibuahi, namun lapisan luar yaitu albuminoid sudah hilang.

Daur Hidup Ascaris Lumbricoides

     Cacing betina menghasilkan 200 ribu butir per hari. Telur Ascaris lumbricoides berkembang dengan baik pada tanah liat dengan kelembaban tinggi pada suhu 25°-30° C. Pada kondisi ini, telur tumbuh menjadi bentuk infektif (mengandung larva) dalam waktu 2-3 minggu. Telur yang infektif bila tertelan manusia akan menetas menjadi larva di usus halus. Larva menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limpa, kemudian terbawa oleh darah sampai ke jantung dan menuju paru-paru. Larva di paru-paru menembus dinding alveolus dan masuk ke rongga alveolus dan naik ke trakea. Dari trakea larva menuju ke faring dan menimbulkan iritasi. Penderita akan batuk karena rangsangan larva ini. Larva di faring tertelan dan terbawa ke esofagus, sampai di usus halus, dan menjadi dewasa. Dari telur matang yang tertelan sampai menjadi cacing dewasa membutuhkan waktu kurang lebih 2 bulan.
Daur Hidup Ascaris Lumbricoides

Gejala Askariasis

Patogenesisnya berhubungan erat dengan respon umum hospes, efek migrasi larva, efek mekanik cacing dewasa, dan defisiensi gizi. Jika larva mengalami siklus dalam jumlah besar,dapat menimbulkan pneumonitis. Jika larva menembus jaringan dan masuk ke dalam alveoli, dapat mengakibatkan kerusakan epitel bronkus. Apabila terjadi reinfeksi dan migrasi larva ulang, walaupun jumlah larva sedikit, tetap dapat menimbulkan reaksi jaringan yang hebat yang terjadi di hati dan paru-paru disertai infiltrasi eosinofil, makrofag, dan sel-sel epitel. Keadaan ini disebut pneumonitis ascaris. Selanjutnya timbul reaksi alergi seperti batuk kering, dan demam (39,9oC – 40oC).
Cacing dewasa yang ditemukan dalam jumlah besar (hiperinfeksi) dapat mengakibatkan kekurangan gizi pada anak-anak. Cairan tubuh cacing dewasa dapat menimbulkan reaksi toksik sehingga terjadi gejala mirip demam tifoid yang disertai alergi seperti urtikaria, edema pada wajah, konjungtivitis, dan iritasi alat pernafasan bagian atas.
Kadang-kadang cacing dewasa bermigrasi akibat adanya rangsangan dan menimbulkan kelainan yang serius. Efek migrasi juga dapat menimbulkan obstruksi usus, masuk ke dalam saluran empedu, saluran pankreas, dan organ-organ lainnya. Migrasi juga sering terjadi keluar melalui anus, mulut, bahkan hidung.

Diagnosis Askariasis

Pada fase migrasi larva, diagnosis dapat dibuat dengan menemukan larva dalam spudium atau bilas lambung. Selama fase intestinal, diagnosis dilakukan dengan menemukan telur dan cacing dewasa dalam tinja.

Epidemiologi Askariasis

Di Indonesia prevalensi askariasis termasuk cukup tinggi, terutama terjadi pada anak-anak. Frekuensinya antara 60-90%.

Pencegahan Askariasis

1. Pencegahan Primer
  • Melakukan promosi kesehatan yaitu pendidikan kesehatan dan penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik, hygiene keluarga dan hygiene pribadi seperti tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman, sebelum melakukan persiapan makanan dan hendak makan, tangan dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan sabun, sayuran segar (mentah) yang akan dimakan sebagai  lalapan, harus dicuci bersih dan disiram lagi dengan air hangat karena telur cacing Ascaris dapat hidup dalam tanah selama bertahun-tahun. Juga peyuluhan tentang pentingnya buang air besar di jamban, tidak di kali atau di kebun untuk menghindari penyebaran dan penyakit ini.
  • Proteksi spesifik dengan melakukan pengobatan massal 6 bulan sekali di daerah endemik atau di daerah yang rawan askariasis.
2. Pencegahan Sekunder
  • Deteksi dini terhadap orang yang mempunyai risiko terkena penyakit askariasis ini.
  • Mengobati dengan tepat penderita askariasis
3. Pencegahan Tersier
  • Membatasi ketidakmampuan penderita askariasis dengan memberikan pengobatan pirantel pamoat 10 mg/kgBB dosis tunggal, Mebendazol 500 mg dosis tunggal (sekali saja) atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut, Albendazol 400 mg dosis tunggal (sekali saja), tetapi tidak boleh digunakan selama hamil atau melakukan operasi pembedahan apabila pengobatan secara oral sudah tidak memungkinkan lagi.

Selasa, 26 Agustus 2014

Hilang, mati (Part 3)



Zahwa duduk sambil menyandarkan kepalanya ke kursi bambu yang ada di tepi pantai kala itu, matanya menatap jauh ke arah garis laut, ia masih tak habis pikir atas perlakuan Bara terhadapnya, ia hanya menitikkan air mata, tak peduli dengan temannya yang tengah berlarian di bibir pantai senja itu. Tujuan temannya mengajak ke pantai memang baik, ingin Zahwa bisa melupakan Bara, membuang semua kenangannya ke samudera yang luas. Masih banyak orang yang lebih baik dari Bara, terlalu sayang air matanya menetes sia-sia. Sejauh ini Bara tak pernah menyatakan cintanya pada Zahwa, begitu-begitu saja tak pernah jelas arahnya. Namun Zahwa terlalu dengan hati dengan Bara, entah apa yang pernah Bara katakan pada Zahwa hingga membuatnya percaya atas cintanya.
Kali ini bukan permasalahan soal Niko, di sisi lain Bara punya masa lalu dengan Yuri yang kali ini membuat Zahwa cenat-cenut dan mungkin hampir pingsan karenanya. Sehari sebelum Zahwa ke pantai bersama teman-temannya, ia mendengar kabar soal pertunangan Bara dengan Yuri. Walau bagaimana Yuri pernah ada di hati Bara, bisa dibilang Bara pernah cinta padanya, namun Yuri menghianati Bara. Sesakit apapun Bara mungkin bisa menerima Yuri kembali. Mungkin Yuri pergi karena sikap Bara yang tak pernah ada kepastian seperti halnya pada Zahwa. Kali ini Zahwa mencoba menerima kenyataan, mungkin Bara bisa bahagia dengan Yuri, cinta masa lalunya. Zahwa berpikir sosok wanita seperti apakah Yuri? Hingga Bara bisa menerimanya kembali walau telah sakit karenanya. Banyak tanda tanya dalam otak Zahwa yang tak bisa terjawabkan. Zahwa hanya bisa diam dan diam.
Sebulan sejak kabar pertunangan Bara, Zahwa tak pernah kontek lagi dengan Bara. Namun malam itu Bara mencoba menghubungi Zahwa kembali, 3 kali menelfon dan Zahwa tak menjawabnya. Zahwa mencoba membuka pesan singkatnya “Kenapa ga diangkat? Aku butuh kamu” begitu tulisan di HP Zahwa. Ia mencoba tegar dan membalasnya “Aku? Ga salah? Bukannya bentar lagi kamu mau nikah?”. Bara menelpon lagi dan setelah sekian kalinya Zahwa akhirnya mengangkatnya. “Aku belum siap untuk menikah, masih banyak hal yang belum aku raih” Bara mencoba menjelaskan pada Zahwa.
“Kalo ga kamu coba, gimana kamu siap?” timpal Zahwa.
“iya, aku belum siap untuk semuanya, memang ada yang ngajakin nikah, tapi aku belum sanggup untuk memimpin keluarga. Nikah memang selesai sehari, tapi setelah itu banyak yang harus dipikirkan.” Tambah Bara.
Kali ini Zahwa agak menaikkan nadanya “Semua orang pasti bakalan nikah, apa kamu mau kaya gitu terus? Kamu laki-laki harus bisa ambil sikap, jangan mempermainkan hati wanita. Yakinkan satu orang yang paling kamu yakini mampu menjaga hatimu dan kamu jaga pula hatinya”. Zahwa menekankan kalimatnya agar Bara sadar atas sikapnya kepada wanita selama ini. Ia tak berharap wanita itu adalah dirinya, tapi setidaknya tak akan ada lagi yang terluka oleh perlakuannya. Soal kabar pertunangan Bara benar atau tidak tak lagi ia pedulikan, Zahwa mencoba bersikap bijak.
Setelah membatalkan pertunangannya dengan Yuri, Bara mencoba menjalani hari-harinya kembali dengan Zahwa. Bara merasa nyaman dengan Zahwa, ia setia mendengar cerita-cerita hidup Bara, dan kadang memberi nasihat. Semakin lama Zahwa pun luluh kembali. Ia mencoba serius menjalani kedekatannya, bahkan Bara sering melontarkan kata-kata menikah dengan Zahwa kelak. Ia mulai yakin dengan Bara, ia tak menanggapi pria lain yang mencoba dekat dengannya, ia hanya mengharapkan Bara seorang. Zahwa semakin yakin ketika Bara telah merundingkan hubungannya dengan Zahwa ke keluarganya. Keluarga Bara pun tak ada penolakan dengan hal tersebut. Zahwa merasa bahagia, ia mampu melupakan segala yang membuatnya kecewa, mulai dari janji yang sering tak Bara tepati, hingga masa lalu Bara yang sangat membuat Zahwa sakit hati.

................to be continue..........

Kamis, 12 Juni 2014

Hilang, Mati (part 2)

Part 2


Beberapa bulan berlalu, Zahwa pun semakin merasa ada hal lain dengan Bara, ia merasa Bara selalu membuatnya bahagia, hari-harinya menjadi lebih berwarna semenjak ia mengenal Bara. Tak ada waktu yg terlewat tanpa kontek dengan Bara, setiap hari Bara memberi kabar pada Zahwa. Sungguh indah dunia kala itu, membuat Zahwa semangat mengerjakan segala sesuatu. Di situlah muncul sedikit masalah, sebenarnya simpel tapi bagi orang yg lg PeDeKaTe jadi ribet.
Kala itu Zahwa memang sering curhat2an sama temen eSDe-nya sebut saja inisialnya Niko, ya Niko emang baik bgt sama Zahwa, sampe-sampe kalo Zahwa gak bales smsnya malah ditransferin pulsa dikira Zahwa miskin kali yaaa?? OoEmJi Helloooo.... Zahwa beruntung banget ya punya sahabat kaya gitu. Oke intinya yg jadi masalah adalah status hubungan Zahwa dan Niko di Fesbuk, di sana tertera Niko Rionaldo menikah dengan Zahwa Prawira. Sungguh hal yang sangat mengganggu bagi Bara, di sisi lain ia tak bisa menuntut apapun ke Zahwa karena memang belum ada komitmen di antara ia dan Zahwa. Mungkin bagi Zahwa tak ada masalah dengan status hubungannya di fb, apalah arti status hubungan jika di hatinya tertulis nama Bara Wardhana.
Hingga suatu hari Bara “Neng, kok status hubungannya di fb menikah?” katanya, Zahwa “Emang kenapa mas? Itu kan Cuma status, kasian si Niko baru diputusin pacarnya, biarin ajalah biar dia seneng” jawabnya tanpa rasa salah.
Bara ngedumel “iyasi dia seneng tapi kan gw engap ngeliatnya” katanya lirih, Zahwa dengar samar “bilang apa barusan? Bisa diulang?” kata Zahwa.
“Hah? Enggak, gak bilang apa-apaan kok, gapapa, hheeee....” Bara ngelak.
“Beneran nih gapapa?” Zahwa mencoba mengejar. Namun Bara tak mau mengakui kalo dia tak suka dengan hal itu. Hingga akhirnya Zahwa dengar dari Rezky kalo Bara selalu marah-marah dengan adanya status hubungan Zahwa dengan Niko. Itupun setelah status hubungannya di fb dipajang sebulan. Zahwa masih mikir bakal digimanain tu status hubungan di fb. Dipikir-pikir semakin kesini Niko pun memperlakukan Zahwa seperti benar-benar ia kekasihnya, panggilannya menjadi syg atau yank, setiap kali ia pergi pamitan ke Zahwa persis seperti orang pacaran. Zahwa semakin dilema dengan keadaan itu, rasa tak enaknya masih bersarang dibenaknya, scara Niko tak kurang-kurang pada Zahwa. Namun disisi lain Zahwa memiliki rasa sayang yg lebih pada Bara dari rasanya terhadap Niko. Hingga Zahwa ambil sikap untuk menyudahi semua kebohongan publik itu dan tanpa penolakan Niko mengiyakan. Selesailah masalah Bara yang cemburu buta terhadap Niko, namun tak selesai sampai di situ.
Suatu ketika pulanglah Niko dari rantau, ia ingin menemui Zahwa. Tak ada salahnya seorang sahabat menemui sahabat karibnya yang lama tak jumpa. Sore itu Niko menjemput Zahwa ke asrama dan mengajaknya ke kedai kopi dan suasananya memang romantis, terlihat dari luar banyak pasangan kekasih nongkrong di tempat itu. Masih diparkiran Zahwa heboh “Niko, liat liat....Liat noh itu motor gw kenal bgt, motornya mas Beni deh itu” sambil menunjuk ke motor di sebelah kirinya. Niko santai “jangan sok tau deh, motor kaya gitu kan banyak yang punya Za” sambil melepas helm di kepalanya dan heran sama sikap Zahwa yang heboh sendiri bak PKL ngeliat satpol PP.
“Ya ampunnn Nikoooo, gw paham sepaham-pahamnya itu motor punya mas Beni, liat deh ada tulisan BEN’Z di plat nomornya, trus banyak stiker bugs bunny di mana-mana, itu asli mas Beni bgt. Pasti dia di dalem deh” perjelas Zahwa yang mulai cemas takut ketauan kalo dia jalan sama Niko. Rasanya dia pengen cepet pergi dari tempat itu dan nyari tempat lain yang lebih nyaman. Namun karena Niko kekeh maunya di situ maka apa daya Zahwa ngikut. Niko bener-bener cari perkara, dia ngajak duduk di tengah, padahal di tengah kosong, gak ada orang dan pasti sangat terlihat dari gazebo-gazebo yang mengelilinginya. Mampus!!!! Kalo mas Beni liat pasti bakal heboh, secara mas Beni hobi siaran dimana-mana, udah gitu lebih bahaya kalo mas Beni lapor sama Bara, dia sering sama Bara lagi. Zahwa makan sambil pecicilan liat ke gazebo sekitarnya kalo-kalo mas Beni terlihat, tapi sama sekali Zahwa gak bisa ngeliat sosok mas-mas item dan gendut itu. Hingga selesai makan dan tiba di parkiran ia tak menemukan sosok itu. Namun di sana tak ada lagi motor dengan plat BEN’Z, Zahwa masih mikir kemana-mana. Niko mencoba membuat Zahwa santai dan tak perlu memikirkan hal-hal yg membuatnya gila. Niko mengantar Zahwa kembali ke peradaban, terbayar sudah rasa rindu Niko pada sahabatnya.
Dua hari kemudian terdengar kabar Zahwa dan Niko, tak butuh waktu lama gosip dengan cepat beredar. Dan dahsyatnya Bara kali ini protes-protes ke Zahwa soal Niko. Henfon Zahwa berdering “Assalamu’alaikum” sapanya sok manis pada Bara yg diseberang sana. “Wa’alaikumsalam” sahut Bara tak semangat.
“kenapa? Lemes bgt si” Zahwa bingung,
“kamu abis jalan sama Niko kan?” Bara tanpa basa-basi, kebiasaan.
Zahwa hening sejenak mengumpulkan daya untuk berkata-kata “iii....yaaa...iya kok tau? Heee” rada gagap.
“Gw kan punya indera ke tujuh, apasi yg gw ga tau. Ngapain aja?” lanjut Bara.
Zahwa semakin tak menyangka “Cuma makan doang sama ngeskrim kok trus balik, udah”.
“kok gak ngajakin gw?” timpal Bara
“hah? Km kan gak suka eskrim, ntar sakit gigi gw yang salah” Zahwa membela diri.
“siapa bilang? Gw mulai suka kok sama eskrim” Bara cari pembenaran atas statementnya.
“okeh, besok-besok yaaa” Zahwa masih tanda tanya, Bara emang aneh tapi sejak kapan dia suka sama eskrim? Bukannya dia suka sama bakso yaa??? Lagi-lagi nggak nyampe ke logika Zahwa akan apa yang dikatakan Bara. Cuma segitu obrolan yang lama-lama semakin melenceng jauh dari topik utama. Zahwa tak kurang akal untuk cari tau, ia menguak informasi dari Rezky dan benar si Bara memang uring-uringan ketika mendengar soal Niko. Dua kali sudah Niko jadi orang yang sangat membuatnya cenat-cenut, mungkin sampai kapanpun Niko akan jadi orang yang paling dicemburui oleh Bara.
Kembali ke Zahwa, kali ini dia pindah ke kost, ya masa berlaku asrama sudah habis. Zahwa pindah ke kost mba Acik di deket kampus, orang bilang si biasanya di bawah kampus soalnya dari kampus turun jalannya ke kost. Bukan di bawah kampus ada kost2an yaa. Di sini ia masih belum hilang kontek sama Bara, walau Bara sempat ilang-ilangan dan tiba2 datang lagi, Zahwa masih saja menerima Bara dengan segala kekurangannya. Hingga suatu malam yang indah, banyak bintang di langit dan suasana malam pun dingin, Zahwa tengah berbaring sambil berZUMAria di kasurnya. Henfon berdering “Hallooo” sahut Zahwa sejadinya. “kamu dimana?” Bara nanya, “dihatimuuu” Zahwa gombal, “masa si? Disini dong?.....seriuss dimana?” Bara srius nanya. “kenapa si? Ya di kost lah” Zahwa rada bete. “aku mau kesitu, udah deket nih, 10 menit lg nyampe” Bara semakin serius dan berusaha meyakinkan Zahwa. “HAH???? Ngapain? Jam berapa ini? Besok aja gimana?” Zahwa kaget, “sekarang, sekarang nih otw, keluar yaa” Bara memperjelas. “a...e...okeh deh okeh” Zahwa mengiyakan saja. Ia bangkit dari tempat tidur dan melirik jam dinding, 09.10 pm dan kebayang 10 menit lagi adalah 09.20 pm. “gilaaakkk,, gilaaakkk tu orang, mau ngapain coba malem-malem gini ke sini?” teriak Zahwa sambil meraih jemper sedapatnya. Tepat 10 menit HP berdering lagi, langsung ia raih dan terdengar suara Bara “aku di depan gerbang kost mu, udah dikunci yaa?”, “iyaa lah gila, jam segini bertamu, gak tau diri bgt si kamu” Zahwa jutek. “gapapa lah cepetan keluar, dingin bgt nih” Bara ngoceh. “iyaa iyaa nih lg jalan” sahut Zahwa. Dan tiba di depan gerbang Bara tampak melambai-lambaikan tangan layaknya di stasiun ketemu sama orang yang lama ditunggu baru turun dari kereta. Dan “ngapain si kesini malem-malem? Gak enak sama ibu kost lah yaa” kata Zahwa.
“Gapapa pengen liat kamu aja kok, heheeee” jelas Bara.
“hah? Gitu yaa?” Zahwa heran. “Iyaa, hehehee... btw kok aku kaya lagi jengukin Napi di dalem sel yaa?” Bara becanda. Tapi beneran, Zahwa di dalem gerbang, Bara diluar gerbang, persis kaya Napi lagi dijenguk. Cuma pertemuan sederhana seperti itu saja Bara ngerasa tenang, tak perlu jalan kemana dan ngapain harus atur waktu buat jalan yang belum tentu Bara bisa timingnya. Tepat pukul 22.00 Bara pamit, mereka ngobrol kurang lebih 40 menit, cukuplah buat bekal beberapa hari ke depan.


BERSAMBUNG....................

Senin, 14 April 2014

THE END


Pernah bahagia sama-sama, sakit karenanya, termaafkan, sakit dan kecewa.

Tak ada yang harus disesali


Cukup biarkan yang sudah terjadi menjadi bagian yang harus tertinggal
Dan bagian dimana kita pernah sama-sama dan aku selalu menganggap temanku adalah temanmu juga.


Bukan hal mudah ketika kita harus melepaskan orang yang pernah dari hati kita sayangi. Namun tak ada baiknya juga jika dipaksakan bertahan hanya satu orang yang memperjuangkannya.
Seindah apapun kenangan ketika suatu hubungan mengalami permasalahan dan tak dapat dikembalikan seperti semula maka hal terbaik adalah mengikhlaskan.

Jumat, 11 April 2014

Sadar setelah lama

Lamanya suatu hubungan tidak menjamin akan adanya perasaan saling menjaga antara masing2, niat serius bisa saja hanya kiasaan semata, apa yang selama ini menjadi mimpi, tujuan dan harapan terabaikan begitu saja. Entah apa yg telah terjadi sehingga menjadi hilang dan mati tanpa disadari. Bosan, jenuh, lelah dan tak mau memperjuangkan menjadi bumerang dalam berakhirnya suatu tujuan. Hidup memang tak bisa diduga akan ada apa di masa mendatang, jangankan hari esok, detik yang akan datang pun kita tak pernah tau apa yang akan terjadi pada diri kita. Namun semua bisa direncanakan dengan indah, walau hasilnya tak sesuai rencana.

Setiap manusia memiliki perasaan, sensitif ketika kita bicara soal hati dan perasaan. Kali ini kecewa yang akan menjadi pokok. Kecewa akan perlakuan dia yang selama ini aku percaya mampu menjaga hatiku. Kini dia telah berhasil membuat semuanya porak poranda bak kapal titanic menghantam gunug es. Sudah biasa ketika dia hilang dan hilang lagi dengan berujung permintaan maaf. Namun ketika hal yang sama terjadi lagi. kecewa, kecewa dan kecewa. bukan hal baru memang, tapi tak pernah diduga akan berujung seperti ini

Sedari dulu harusnya aku percaya akan omongan ibu, walau tanpa rincian yang sedemikian hingga tapi intinya mereka benar adanya. Sangat benar malah. Mengikuti aturan main memang lebih baik, dari pada harus berpura2 mengikuti tapi main belakang. Berujung sakit sendiri, kini salah siapa ketika aku mengadu pada orang tua. Tapi semua memang adil adanya, lebih baik sakit sekarang sebelum terlambat dari pada sakit di masa mendatang.
dan bener kata Bang Dika "cowo itu kalo ga bajingan ya homo"

Hilang, mati



Sepoi angin mengibaskan helai paris berwarna merah marun yang menempel di kepala Zahwa, terpejam matanya menikmati setiap hembus angin laut, menyusup ke pernafasannya. Terlintas dalam benaknya kala itu ada seseorang yang berada di sampingnya untuk menikmati sunset senja. Seseorang yg tak pernah bisa ia hilangkan dari hatinya, Bara.
Cerita pertemuannya dengan Bara berawal dari rutinitas mengantar adiknya ke sekolah. Libur semester yang sebulan lamanya menjadikan Zahwa tak ada kegiatan selain membantu ibu di rumah. Setiap pagi ia mengantar dan siangnya menjemput adiknya ke sekolah. Pagi itu Zahwa ogah-ogahan mengantar adiknya, ia masih berbaring di depan tv menikmati acara yang mungkin tak penting seperti infotaiment misalnya.
“Kak, buruan!! Setengah tujuh lebih nih”, teriak Zaira adik Zahwa.
“Iya ayook” sahut Zahwa sambil berlalu keluar rumah.
Dengan setengah hati ia melaju mengendarai sepeda motornya, menyusuri beberapa belokan dan sampailah ia di sekolah adiknya.

Banyak orang yang mengantar anak sekolah, beberapa orang ibu tengah melepas keberangkatan anaknya menuntut ilmu sambil berdadah-dadahria berasa sebulan lamanya anaknya baru kembali. Selain ibu, terlihat beberapa orang bapak yg menunjukkan kecintaannya terhadap keluarga sehingga pagi itu mereka sempatkan untuk mengantar anaknya ke sekolah. Sungguh pemandangan yg syahdu di pagi yang cerah. Soundtrack yg tepat ialah Sepanjang Jalan Kenangan.
Karena maju ia tak bisa maka mundurlah Zahwa tanpa menengok ke belakang terlebih dahulu dan “prakkk” terdengar suara bagian belakang motornya mengenai motor dibelakangnya. Zahwa menoleh dan sang pemilik motor malah tersenyum sambil berkata “ati-ati neng, liat-liat dong”, Zahwa nyengir tanpa dosa “sorry mas, maju gak bisa tuh” sambil menunjuk ke arah depannya yg beneran sempit ada motor bapak-bapak bertengger di sana. Mas-mas bermotor matic itu Cuma tersenyum. “Bisa mundur dikit mas, mau balik nih”, “balik kemana? Masih pagi juga” jawab masnya sambil menebar senyum. Zahwa mengernyitkan keningnya, tak habis pikir dengan apa yang dikatakan mas-mas itu, tak sampai di otaknya, masa iya mau nungguin anak sekolah sampai pulang, toh pagi itu dia belum mandi. Selepas itu ia pulang dan masih tak menyangka akan kejadian tadi.
Esok harinya bahkan bertemu lagi, lagi dan lagi hingga suatu malam ia mendapat pesan singkat “Zahwa” cuma satu kata itu yang tertulis dan ia membalas “maaf siapa ya?”, “yg ketemu tiap pagi” katanya. Masih tak habis pikir apa maksud dari mas-mas itu sms dia. “siapa ya?” balas Zahwa, “Bara” balasnya. Dan Zahwa tak ingin meneruskan percakapan dalam sms itu.
Karena setiap pagi ketemu selama sebulan dan hampir tiap hari ngobrol lewat sms maka lama kelamaan mereka mengenal satu sama lain. Hingga suatu saat Zahwa diajak keluar oleh sahabatnya Omi, tanpa berfikir panjang Zahwa mengiyakan ajakan Omi, melalui handphone mereka berbicara “Za, tar gw jemput jam 3 ya?” , “baik bgt lo mo jemput gw” sahut Zahwa heran, “ya maksudnya bukan gw tp ntar ada lha yg jemput lo, hihihi” kata Omi sambil ketawa ngledek. “Eh, yang bener aja lo Mi? Gw ama siapa ntar?” penasaran Zahwa semakin meningkat, “tau beres aja deh lo, bye....tut...tut...tut....” mendadak sang penelpon raib gitu aja tanpa babibu. “sialan tu Omi, ngerjain gw kali ya” gerutu Zahwa. Walau masih mikir-mikir tar pergi dijemput siapa ia mulai menyiapkan apa yang akan dipakainya ntar. Sambil nyetrika ia pilih-pilih baju yang match ama semuanya. Dan tiba-tiba henfon berdering lalu diraihnya “Hallo” Zahwa hanya menghallokan, “iya hallo, tar aku jemput di mana?” tanpa ABCDEFG Bara nyeplos ke intinya. Jebrettt berasa kesamber geledek, tau-tau ni orang main hantam aja. “E-iya-e” mendadak gagu or gagap gak ada bedanya. “Hallo, sorry neng gak jelas, gimana?” Bara budek atau memang pura-pura gak denger atas kegaguan Zahwa. “Iya, kampus tau kampus? Depan gerbang aja gak usah masuk, jam 3 kan?” jawab Zahwa lancar yang udah mengumpulkan segenap jiwa raga. “Oke-oke, sampe ketemu nanti yaa, bye” Bara menutup telfonnya. Zahwa pengen loncat-loncat saat itu, bisa-bisa henfon yang tadi udah ketelen kali yaa? mungkin soundtrack yg pas saat itu adalah lagunya blink yang judulnya dag-dig-dug.
Waktu menunjukkan pukul 02.50 pm Zahwa masih di depan kaca, semua udah siap tapi dia belum PeDe buat keluar ia masih nanya ke temen asramanya yg kebetulan ada 4 orang di sana “eh, pantes gak sih pake ini” sambil memegang bajunya “ya ampun Za, udah cantik bgt kali lo” sahut Endia sambil melepas roll rambut yang menempel di poninya. “mau kemana sih? rapi bgt” celetuk Exa, “mau kondangan Xa, ya kencan lah” jawab Endia sambil tertawa lebar. “Serius ini” Zahwa menatap Endia srius tapi bingung. “Gak percaya lo udah cantik? Tanya sama itu anak dua noh, ya kan Vira, Tera?” teriak Endia, namun dua manusia itu telah masuk dalam dunia mimpi, mereka memang seperti anak kembar tapi beda, yang satu rada maaf (langsing tanda kutip) dan satunya ya ideal lah, tapi mereka selau kompak dalam segala hal terutama soal molor, yah pintar memanfaatkan waktu untuk memejamkan mata, seperti saat ini. “Kamprettt tu orang pada molor aja” gerutu Endia sewot sendiri, “udah cantik kok, yuk poto dulu yukk” Endia melanjutkan. 5 menit sesi narsis selesai dan tepat pukul 03.00 pm Zahwa menerima sms dari Bara “aku udah di depan gerbang samping”, “iya tunggu bentar” balas Zahwa. “Aduh, uda dijemput nih, udahan ya potonya Endia syg” kata Zahwa sambil meringis setengah grogi, “iya udah lha sana berangkat, oleh-olehnya jangan lupa yaa! Eh, mukanya biasa aja jangan gitu” Endia gemes ngliat Zahwa keliatan grogi. “Aduh, dek-dekan tau, yaudah ya aku berangkat. Assalamu’alaikum” Zahwa pamit sambil jalan keluar. “Wa’alaikumsalam, ati-ati” sambil Endia melambaikan tangan.
Sampai di dekat gerbang jantung Zahwa semakin tak beraturan, rasanya ingin mbalik aja ke asrama. Bara telah menyambutnya dengan senyum lebar ala Bara seperti saat ia bertemu pertama kali. Zahwa menjadi agak rileks, ia merasa lebih baik dari detik sebelumnya. Dan soundtrack yang tepat saat itu adalah lagu dangdut yang judulnya pertemuan. Singkat kata mereka sampai di sebuah tempat makan dan di sana udah ada Omi sama pacarnya Rezky. “Za, baik-baik kan lo?” sambut Omi sambil ngedipin mata ke Bara, tanpa ekspresi Bara ngloyor aja duduk deket Rezky. Dengan muka bingung Zahwa jawab “emang kenapah?”, “ya kali aja lo diculik ama si Bara, hahahaa” Omi ngeledek. “apah? Culik?” saut Rezky dengan tampang heran, mereka bertiga menatap Bara. Tak mungkin Bara mikir ampe nyulik orang segala, buat apa coba?. Lalu mereka bertiga ngakak berbarengan tanpa Bara tau maksudnya dan Bara hanya nyengir kuda. Bara memang aneh bin nyleneh, tapi di situlah letak ketertarikany Zahwa terhadapnya, Zahwa selelu penasaran akan keanehan-keanehan Bara, rasa penasarannya berubah menjadi rasa yang lain.
Pertemuan pertamanya diakhiri dengan makan eskrim berempat, dari situ Zahwa tau hal yang paling tidak disukai Bara adalah eskrim dan coklat, namun karena Bara menghargai Zahwa ia pun ikut menikmati sendok demis sendok eskrimnya. Setelah mereka muter-muter gak jelas akhirnya Zahwa diantar pulang sampai depan asrama, mereka sempat duduk-duduk agak lama di depan asrama Zahwa sebelum akhirnya pamitan. Keakraban Zahwa mulai terasa dan otak jailnya gak bisa diam, Bara yang nangkring diatas motornya dengan kedua kakinya diangkat ke bordes tak sadar akan keberadaan sendalnya yang sebelah kiri telah berpindah tempat. Bara tak menampakkan tampang panik sama sekali ketika menyadari sendalnya raib sebelah, “ah apa artinya sendal sebelah, ni yang sebelah sekalian ambil, aku pulang nyeker juga ga papa, masih banyak yang jualan” tanpa ambil pusing Bara berkata demikian sambil memarkirkan motornya. Zahwa tertawa bahagia ketika kejailannya tersadari oleh korbannya. “Kasihin Za, tar nangis Baranya loh” Rezky menasihati Zahwa. Tak semudah itu membujuk Zahwa, musti dilobi pake eskrim biar dikasihin sendalnya yang sebelah. Setelah negosiasi akhhirnya sendalpun dapat kembali ke pemiliknya dengan jaminan eskrim di pertemuan yang akan datang. Otak kriminal Zahwa memang selalu menghasilkan sesuatu, ini buktinya. Zahwa say good bye pada Bara, Omi dan Rezky. Ia masuk ke asrama, mengetuk pintu kamar dan dibukakan oleh Vira “Eh, ibu pulang, dapet apa buuu?” sambut Vira dengan ramah, ni anak emang ramah banget, alussss kalo ngomong. “ibu, ibu, ibuuuuuuu” teriak Exa dan Endia berbarengan, berasa anak 5 tahun yang seharian ditinggal ibunya, hebring ketika melihat ibunya pulang. Yah, Zahwa mungkin memang paling dewasa diantara mereka berlima sehingga mendapat pamggilan ibu. “haey anak-anak, kalian baik-baik kan? Ini ibu dapet molen kesukaan kalian” kata Zahwa sambil mengeluarkan isi tasnya. Sungguh keluarga yang bahagia.


 BERSAMBUNG............